Selasa, 24 Oktober 2017

Tomat Anti Sense

Transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan tertentu. Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing dari spesies tanaman yang berbeda atau mahluk hidup lainnya. Penggabungan gen asing ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan Tomat memiliki shelf-life yang pendek. Shelf-life yang pendek ini disebabkan dengan aktifnya beberapa gen seperti poligalakturonase saat tomat mengalami kematangan. Dengan kondisi seperti ini, tomat sulit sekali untuk dipasarkan ke tempat yang jauh terlebih untuk ekspor. Biaya pengemasan sangat mahal seperti menyediakan box yang dilengkapi pendingin. Untuk mengatasi hal ini para peneliti di Amerika mencoba merekayasa kerja gen polygalactonase (PG) yang berasosiasi dengan shelf-time tomat yaitu dengan menginsert antisense dari gen PG. Dengan demikian shelf-time menjadi lebih lama. Tomat ini dinamakan dengan Flavr Savr.
Langkah-langkah pembuatan tomat flavr savr
1.    Ikan Flounder mempunyai gen antibeku yang disebut dengan gen antisenescens yang dapat menghambat enzim poligalakturonase (enzim yang mempercepat kerusakan dinding sel tomat). Gen ini dipindahkan dari kromosom di dalam sel ikan Flounder. 
2.    DNA antibeku ini kemudian disisipkan pada DNA bakteri Escherichia coli yang disebut plasmid. DNA hibrid ini, yang merupakan kombinasi dari dua DNA berbeda disebut sebagai DNA rekombinan. 
3.    DNA rekombinan yang mengandung gen antibeku ini kemudian ditanam kembali pada bakteri Escherichia coli 
4.    Bakteri tersebut memproduksi kopian dari DNA rekombinan dalam jumlah yang sangat banyak. 
5.    Tahap selanjutnya diawali dengan isolasi DNA sel tomat terlebih dahulu yang dilakukan dengan cara menghaluskan batang tomat dalam nitrogen cair untuk melepaskan isi sel. Isi sel tersebut kemudian ditempatkan dalam tabung reaksi, lalu disentrifugasi. Selama sentrifugasi, isi sel terpisah ke dalam dua lapisan dimana salah satunya adalah lapisan DNA. Lapisan ini kemudian dipisahkan dari tabung, kemudian ditambahkan enzim restriksi, yaitu ECO R1 yang berfungsi memotong di lokasi DNA yang spesifik. 
6.    Sel tanaman tomat diinfeksi dengan bakteri tersebut. Setelah itu ditambahkan enzim ligase ke dalam DNA tomat dan plasmid untuk menyambungkan DNA, sehingga dapat lengket. Hasilnya, gen antibeku pada plasmid yang terdapat pada bakteri bergabung dengan DNA sel tanaman tomat. 
7.    Sel tanaman tomat kemudian ditempatkan pada media tumbuh yang berupa cawan petri yang mengandung media nutrien selektif. 
8.    Bibit tomat mulai ditanam.

Salinitas tanah merupakan faktor lingkungan yang penting yang membatasi pertumbuhan dan produktivitas tanaman akibat tekanan osmotik, kekurangan mineral, efek toksik dari Na + dan Cl-, dan gangguan fisiologis dan biokimia. Transformasi genetik adalah alat yang ampuh untuk mengidentifikasi efek gen individu pada aspek fisiologis toleransi garam tanaman dan setelah kemungkinan untuk mengembangkan genotipe toleran lebih garam. Beberapa karya menunjukkan bahwa ekspresi beberapa transgen meningkatkan tingkat toleransi garam yang lebih tinggi pada beberapa spesies, seperti: padi. Etilen adalah fitohormon yang paling sederhana (C2H4), itu mempengaruhi banyak proses sepanjang masa tanaman termasuk perkecambahan biji, pertumbuhan tanaman, pembentukan kait apikal, penuaan organ, pematangan buah, absorpsi, dan gravitropisme (Manaa et al., 2014)
Arabidopsis dan tomat adalah spesies tanaman model yang dapat dengan mudah ditransformasikan dengan metode yang berbeda untuk menguji efek pengenalan gen asing melalui transformasi genetik. Apalagi genom dan fisiologi mereka sudah dikenal. The Coffea canephora complementary DNA (cDNA) dan urutan genomik yang sesuai dari satu gen reseptor etilena (CcEIN4) diklon dan dikarakterisasi. Gen ini hadir sebagai satu salinan genom spesies ini. CcEIN4 adalah homolog dengan LeETR5 dari Solanum lycopersicum dan terus-menerus diekspresikan selama pengembangan buah namun ekspresinya meningkat selama tahap pematangan buah terakhir (Manaa et al., 2014)
Hormon etilen tanaman (C2H4) memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Di sini, kami melaporkan tanggapan fisiologis tanaman Arabidopsis transgenik dan tomat, antisensed untuk gen reseptor etilen CcEIN4 dari pohon kopi (Coffea canephora), di bawah tekanan salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perkecambahan lebih tinggi pada benih yang dikumpulkan dari tanaman transgenik dibandingkan benih tanaman liar dengan kondisi stres garam. Pertumbuhan tanaman Arabidopsis transgenik dan tomat kurang sensitif terhadap tekanan garam daripada jenis liar. Beberapa tanaman transgenik menunjukkan stimulasi panjang radikula dan pertumbuhan sistem akar. Toleransi garam yang lebih baik yang diamati pada jalur tomat transgenik dapat dijelaskan dengan: kemampuan untuk mengendalikan akumulasi Na + dan Cl- in tunas dan serapan K + dan Ca2 + yang lebih baik, sehingga menghasilkan Rasio K +: Na + dan Ca2 +: Na + yang lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa persepsi etilen terlibat dalam respons tanaman terhadap tekanan garam dan memainkan peran penting dalam toleransi garam tanaman (Manaa et al., 2014)

Daftar pustaka

Biologi pendidikan. 2015. Tomat Transgenik Flavr Savr. [http://www.biologimu.com/2015/06/tomat-transgenik-flavr-savr-rangkuman.html]. diakses pada tanggal 22 oktober 2017.

Manaa, A., Mimouni, H., Wasti, S., Gharbi, E., Terras, A., & Ahmed, H. Ben. (2014). Characterization of transgenic Arabidopsis and tomato plants antisensed for the ethylene receptor gene CcEIN4 under NaCl stress. Journal of Plant Interactions, 9(1), 539–549. https://doi.org/10.1080/17429145.2013.865796


Senin, 23 Oktober 2017

Kedelai Transgenik

Kedelai saat ini diakui sebagai salah satu tanaman terpenting di dunia baik dari segi nilai ekonomi maupun kandungan gizi. Tanaman kedelai terbukti lebih menguntungkan daripada kebanyakan tanaman pangan lainnya, termasuk jagung. Selanjutnya, kedelai telah diidentifikasi sebagai sumber ideal protein, karbohidrat, minyak, serat, vitamin, dan mineral, serta digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi di banyak negara berkembang. Namun, kedelai sangat rentan terhadap infeksi nematoda dan kondisi buruk lainnya adalah kekeringan dan salinitas tinggi. Infeksi nematoda, terutama nematoda kista kedelai, memiliki dampak buruk pada produksi kedelai di A.S. Studi telah menunjukkan bahwa tekanan panas dan periode kekeringan yang lama secara signifikan mengurangi hasil tanaman kedelai.
Kedelai telah diamati memiliki kandungan asam oleat yang tinggi. Mora (2013) menyatakan bahwa asam oleat atau memiliki nama lain cis-9-oktadekanoat merupakan asam lemak tak jenuh yang banyak terkandung dalam minyak nabati. Dalam bidang kesehatan, asam oleat bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit. Selain itu juga asam oleat, dengan satu ikatan rangkap, bersifat netral terhadap LDL (tidak menurunkan atau menaikkan), tetapi dapat meningkatkan lipoprotein HDL. Asam lemak tidak jenuh rantai ranjang (terutama asam lemak omega – 3 EFA dan DHA) telah terbukti berperan penting dalam pencegahan dan pengobatan penyumbatan pembuluh darah (arterosklerosis), trombosis, hipertrigliseridaemia dan tekanan darah tinggi. Di samping itu potensial untuk pencegahan dan pengobatan asma, artritis, migrain, dan beberapa jenis kanker yaitu: prostat, payudara dan kolon.
Luu et al. (2015) dalam penelitiannya telah melakukan metode transformasi tanaman yang dimediasi Agrobacterium. Metode yang dilakukan yaitu kultivar Kedelai William 82 ditransformasikan dengan gen pHL661 yang terbentuk pada strain Agrobacterium EHA105. Protokol pHL661 direkayasa untuk mengandung gen CPI1 yang dikendalikan oleh promotor 35S, yang memungkinkan ekspresi konstitutif CPI1 pada tanaman transgenik. Gen hptII juga dimasukkan ke dalam konstruksi, yang memungkinkan pemilihan langsung sel tanaman berubah dengan higromisin B. Konstruksinya pHL661 mengandung gen resistensi kanamisin untuk seleksi Agrobacterium. Namun, penelitian ini masih dalam proses. Belum adanya regenerasi seluruh tanaman kedelai transgenik yang menunjukkan tekanan berlebihan CPI1. Sampai saat ini, telah dilakukan prosedur transformasi eksplan kedelai, dan telah disubkontrakkan eksplan ke titik medium pemanjangan tunas. Hasilnya sangat menjanjikan karena semua tunas regenerasi tumbuh dengan baik di media selektif yang mengindikasikan keberhasilan transformasi dan regenerasi tanaman transgenik.
Proses Regenerasi Tanaman Kedelai Transgenik 
(Sumber: Luu et al., 2013)
Berdasarkan penelitian tersebut dapat dilihat bahwa proses regenerasi pada kedelai dapat tumbuh dengan baik. Gen resisten dari bakteri Agrobacterium  dimasukkan ke kedelai dapat digunakan teknologi molekular untuk meningkatkan pembentukan asam oleat. Dengan peningkatan kadar asam oleat ini membuat kedelai lebih memiliki kualitas yang baik.

Referensi:
Mora, E., Emrizal, & Nandhana Selpas. (2013). Isolasi dan Karakterisasi Asam Oleat dari Kulit Buah Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.). Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia 1(2), Maret 2013: 47-51.

Luu, T., DeMarsh, T., Zeng, P. (2015). Generating a Novel Soybean (Glycine max) Cultivar with Resistance to Nematode Infection and High Performance in Adverse Conditions through Overexpression of Cysteine Protease Inhibitor 1. Presentation poster. Student Research Showcase

Minggu, 22 Oktober 2017

COLDEN RICE (BERAS EMAS)


Gambar terkait
Sumber : Isa, 2014
Beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat di negara berkembang. Sehingga akan sangat menguntungkan apabila beras memiliki kandungan provitamin A. Namun, kandungan beta karotin padi hanya terdapat pada jaringan hijau seperti daun, sedangkan endosperma padi (beras yang kita konsumsi) tidak memiliki kandungan nutrisi ini. Namun, 400 juta orang miskin. Orang-orang dalam masyarakat berbasis padi memiliki kekurangan vitamin A . Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kebutaan permanen dan juga berkontribusi pada meningkatnya kejadian dan keparahan penyakit menular. Beras emas dikembangkan dengan memasukkan gen wortel ke dalam beras untuk mengatasi kekurangan vitamin A Karena itu, pengembangan beras emas diperkaya dengan pro vitamin A semoga akan meringankan masalah ini. Dengan menggunakan teknik rekayasa genetika, gen wortel dimasukkan ke dalam endosperm beras untuk menghasilkan pro-vitamin A melalui biosintesis karotenoid. Karotenoid adalah kelompok pigmen tumbuhan yang penting untuk diet manusia. Salah satu karotenoid, β-karoten.Yang merupakan pro-vitamin A berubah menjadi retinol (vitamin A) saat memasuki tubuh manusia (Amin, 2010).
Setiap tanaman menghasilkan pro-vitamin A di jaringan hijau mereka dan kemudian akan menjadi diubah menjadi vitamin A dalam tubuh manusia. Tanaman GM, yang dikenal dengan nama Golden Rice ditemukan mampu menghasilkan 23 kali lebih banyak pro vitamin A (betakaroten) dibanding prototipe diumumkan pada tahun 2000.
Tanaman transgenik merupakan hasil tanaman dari introduksi gen tertentu ke dalam tubuh tanaman sehingga diperoleh sifat yang diinginkan.Beras Golden dimodifikasi secara genetis untuk memecahkan kekurangan vitamin A. Hal ini tidak diharapkan untuk menyediakan 100% kebutuhan vitamin A pada dietnya, namun perkembangannya semoga akan menambah asupan saat ini untuk mencapai vitamin A kecukupan. Salah satu metode yang digunakan adalah melalui rekayasa genetika komoditi padi sebagai cara untuk penanggulangan krisis pangan dinegara Indonesia dilakukan antara lain melalui upaya perakitan kultivar tanaman yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit untuk menghasilkan bahan makanan berkualitas.
Salah satu cara penanggulangannya ialah dengan menghasilkan padi transgenik hasil pemuliaan tanaman yang tidak mampu menghasilkan provitamin A menjadi tanaman yang dapat menghasilkan provitamin A. Pandangan ini sesuai dengan literatur yang didapatkan mengenai Padi transgenik adalah jenis padi hasil transfer gen dari jenis tanaman yang berbeda. Dalam hal ini, padi transgenik yang sedang dikembangkan di Indonesia ialah (Beras Emas) yang mengandung betakarotena (provitamin A) pada bagian endospermanya. Pada tipe normal, endosperma padi tidak menghasilkan beta-karotena dan akan berwarna putih hingga putih kusam. Namun karotena akan menyebabkan warna beras menjadi tampak kuning-jingga. Beta-karotena tersebut akan diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh (Hidayat, 2014).
https://www.isaaa.org/kc/inforesources/biotechcrops/image1.jpg
Sumber : Isa, 2014
DAFTAR PUSTAKA
Amiin, Latifah. 2010. Ethical Perception of Golden Rice in Malaysia. Malaysian Journal of             Environmental Management. 11(2): 71-78.
Hidayat , Yayat Rahmat. 2014. Persepsi Masyarakat Terhadap Tanaman Transgenik Di Kabupaten             Cirebon. Jurnal Agrijati. 1(26) : 75-88. 
https://www.isaaa.org/kc/inforesources/biotechcrops/The_Golden_Rice_Technology.htm




Sabtu, 21 Oktober 2017

CARA MEMBENTUK BUNGA MAWAR MENJADI WARNA BIRU

Mawar yang sudah menjadi tanaman favorit sejak kurang lebih 5.000 tahun yang lalu. Keinginan untuk mendapatkan varietas mawar baru selalu menjadi impian pemulia dan penikmat (hobbyists) tanaman mawar. Sejak lama diantara impian para pemulia mawar itu adalah menciptakan mawar yang berwarna biru (­blue rose). Dan untuk menunjukkan keseriusan dan mempercepat diraihnya impian tersebut, pada tahun 1840 perkumpulan holtikultur di Inggris dan Belgia menawarkan hadiah uang sebesar 500,000 francs bagi siapapun yang bisa menciptakan blue rose.
Setelah mengetahui bahwa gen yang berfungsi untuk menghasilkan delphinidin (yang bisa mengarahkan sintesa pigmen ditanaman “kearah biru”) tidak terdapat pada mawar, maka gen delphinidin harus didapatkan dahulu dari tanaman yang memiliki gen delphinidin.
Tanaman memiliki beberapa jalur biosintesa yang bisa dilalui untuk menghasilkan warna pada bunga. Pada dasarnya ada tiga pigmen dasar pada tanaman yaitu cynidin, pelargonidin dan delphinidin yang memiliki precursor yang sama yaitu anthocyanin dihydrokaempferol (DHK). Gen cynidin menghasilkan enzim yang bisa memodifikasi DHK dan mengarahkannya untuk menghasilkan pigmen warna biru. Pada tahap ini semua pigmen yang diarahkan masih belum berwarna. Untuk merubah pigmen menjadi berwarna dibutuhkan satu enzim lagi yaitu dihydroflavinol redyctase (DFR). Apabila DFR tidak bekerja maka semua bunga berwarna putih.
Apabila mawar memiliki delphinidin maka proses penciptaan blue rose mungkin tidak akan terlalu rumit. Akan tetapi mawar teryata tidak memiliki gen delphinidin sehinga kemungkinan untuk mendapatkan mawar dengan cara pemuliaan tanaman konvensional melalui persilangan akan mustahil dilakukan. Untuk itu langkah awal untuk menciptakan blue rose adalah dengan mengisolasi gen penghasil delphinidin. dan pada tahun 1991, florigene membuat langkah terobosan dengan keberhasilannya mengisolasi gen delphinidin dari petunia.
Dengan memanfaatkan teknologi transformasi gen ke mawar yang telah mereka kembangkan, gen delphinidin akhirnya bisa dimasukkan kedalam genom mawar. Pada pertengahan tahun 90an mereka mendapatkan mawar pertama dengan delphinidin. namun, hasil yang mereka peroleh bukan blue rose seperti yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena ternyata kombinasi dari cyanidin dan delphinidin di mawar menghasilkan warna merah burgundy. Akan tetapi meskipun hasil yang diperoleh bukan seperti yang diharapkan, penemuan ini merupakan langkah maju untuk mendapatkan blue rose. Paling tidak sampai tahap ini mereka telah mengetahui tahu bahwa gen delphinidin yang mereka masukkan ke mawar mampu bekerja dengan baik.
Untuk menghasilkan blue rose, mawar putih dengan mutasi pada DFR harus digunakan sehingga tidak ada warna lain yang mengganggu sebagai akibat dari ekspresi gen cyanidin. Akan tetapi mereka mengalami kesulitan karena tidak mendapatkan mawar yang berwarna putih sebagai hasil dari mutasi DFR dan untuk membuat mawar seperti itu dengan persilangan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Akhirnya, dengan bantuan Pieter Waterhouse dari CSIRO di Australia, yang pertama kali mempelajari RNAi sebagai alat presisi untuk memanipulasi fungsi gen tanaman, peneliti di Flirigene akhirnya bisa mendapatkan mawar putih yang tidak menghasilkan DFR. Pada mawar tersebut DFR telah dihambat fungsinya dengan memanfaatkan teknologi RNAi. Akrena DFR masih diperlukan oleh mawar untuk memproduksi warna biru dari delphinidin maka fungsi DFR pada mawar tersebut digantikan oleh DFR asing dari Petunia yang tidak bisa mengenali prekursor warna yang dihasilkan oleh gen cyanidin maupun pelrgonidin pada mawar. Hasilnya adalah mawar biru! Peneliti di Suntory melakukan pendekatan yang mirip yaitu menghilangkan fungsi gen DFR mawar dengan menggunakan teknologi RNAi, hanya saja mereka mendapatkan gen delphinidin dari tanaman pansy dan gen DFR dari tanaman Iris.
Tapi rupanya warna biru yang didapatkan belum memuaskan. Mereka menemukan bahwa warna biru yang benar-benar biru dapat diperoleh apabila petal pada mawar memiliki pH yang tidak terlalu asam, keasaman petal mawar mencapai pH 4,5 sementara pada prtunia memiliki pH 5,5. Untuk mendapatkan warna yang benar-benar biru, peneliti pada Florigene dan Suntory mencoba mencari mawar liar dengan keasaman pada petal yang berkisar pH 5,5 namun gagal. Saat peneliti di Florigene dan Suntory tengah mencoba mencari gen yang mempengaruhi pH pada petal dengan menggunakan knock-out technology memanfaatkan RNAi.

Daftar Pustaka :
Nugroho, Satya. 2005. RNAi Terobosan Bidang Bioteknologi. Bio Trends. 1(1) : 27-29

Dampak Positif dan Negatif GMO

Teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetika telah melahirkan revolusi baru dalam berbagai bidang kehidupan manusia, yang dikenal sebagai revolusi gen. Produk teknologi tersebut berupa organisme transgenik atau organisme hasil modifikasi genetik (OHMG), yang dalam batrasa Inggris disebut dengan Genetically Modified Organism (GMO). Namun, sering kali pula aplikasi teknologi DNA rekombinan bukan berupa pemanfaatan langsung organisme transgeniknya melainkan produk yang dihasilkan oleh organisme transgenik. Dewasa ini cukup banyak organisme transgenik atau pun produknya yang dikenal oleh kalangan masyarakat luas. Beberapa di antaranya bahkan telah digunakan untuk memenuhi kebutuhaa hidup sehari-hari. Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh pemanfaatan organisme transgenik dan produk yang dihasilkannya dalam berbagai bidang kehidupan manusiq khususnya bidang pertanian dan kesehatan.
  • ·         Kelebihan Aplikasi Teknologi DNA Rekombinan (GMO) di Bidang Pertanian dan Kesehatan

Aplikasi teknologi DNA rekombinan di bidang pertaniao berkembang pesat dengan dimungkinkannya transfer gen asing ke dalam tanaman dengan bantuan bakteri Agrobacterium tumefaciens. Melalui cara ini telah berhasil diperoleh sejumlah tanaman transgenik seperti tomat dan tembakau dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya perlambatan kematangan buah dan resistensi terhadap hama dan penyakit tertentu.
Di bidang kesehatan, rekayasa genetika terbukti mampu menghasilkan berbagai jenis obat dengan kualitas yang lebih baik sehingga memberikan harapan dalam upaya penyembuhan sejumlatr penyakit di masa mendatang. Bahan-bahan untuk mendiagnosis berbagai macam penyakit dengan lebih akurat jugatelah dapat dihasilkan.
  • ·        Kekurangan DNA Rekombinan (GMO)

Meskipun terlihat begltu besar memberikan manfaat dalam berbagai bidang kehidupan manusia produk teknoiogi DNA rekombinan (organisme transgenik beserta produk yang dihasilkannya) telah memicu sejumlah perdebatan yang menarik sekaligus kontroversial apabila ditinjau dari berbagai sudul pandaag. Kontroversi pemanfaatan produk rekayasa genetika antara lain dapat dilihat dari aspek sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.
  • ·         Penutup

Kontroversi pemanfaatan organisme transgenik dan atau produknya nampaknya masih akan terus berlangsung dalam beberapa waktu yang akan datang. Kearifan dalam menyikapi permasalahan ini sangat diperlukan dengan memberikan pandangan yang obyektif dari berbagai aspek.
  • Daaftar Pustaka


Artikel dikuti dari modul Drs. Agus Hery Susanto, M.S. yang berjudul Kontroversi Pemanfaatan Organisme Transgenik dan Produk yang Dihasilkan
Gambar diambil dari lama : https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjZsPfIiILXAhWDs48KHQZwApUQjRwIBw&url=http%3A%2F%2Fwww.kidsrighttoknow.com%2Fgmos%2F&psig=AOvVaw1LhNc7fFpg19bWP26sRDmf&ust=1508687358586836

PERAN HORMON DALAM PROSES PEMATANGAN BUAH

Gambar1. Perkembangan dan Pematangan Buah (Iriawati, 2012).
Untuk meningkatkan hasil buah yang masak baik secara kualias maupun kuantitasnya dapat diusahakan dengan substansi tertentu antara lain dengan zat pengatur pertumbuhan Ethylene. Ethylene adalah suatu gas yang dapat digolongkan sebagai zat pengatur pertumbuhan (phytohormon) yang aktif dalam pematangan. Perubahan warna dapat terjadi baik oleh proses-proses perombakan maupun proses sintetik, atau keduanya. Pada jeruk manis perubahan warna ni disebabkan oleh karena perombakan khlorofil dan pembentukan zat warna karotenoid. Sedangkan pada pisang warna kuning terjadi karena hilangnya khlorofil tanpa adanya atau sedikit pembentukan zat karotenoid. Sisntesis likopen dan perombakan khlorofil merupakan ciri perubahan warna pada buah tomat (Mignoli et al, 2012).
Menjadi lunaknya buah disebabkan oleh perombakan propektin yang tidak larut menjadi pektin yang larut, atau hidrolisis zat pati (seperti buah waluh) atau lemak (pada adpokat). Perubahan komponen-komponen buah ini diatur oleh enzym-enzym antara lain enzym hidroltik, poligalakturokinase, metil asetate, selullose. Flavour adalah suatu yang halus dan rumit yang ditangkap indera yang merupakan kombinasi rasa (manis, asam, sepet), bau (zat-zat atsiri) dan terasanya pada lidah. Pematangan biasanya meningkatkan jumlah gula-gula sederhana yang memberi rasa manis, penurunan asam-asam organik dan senyawa-senyawa fenolik yang mengurangi rasa sepet dan masam, dan kenaikan zat-zat atsiri yang memberi flavor khas pada buah (Isnandi, 1983).
Proses pematangan juga diatur oleh hormon antara lain auxin, sithokinine, gibberellin, asam-asam absisat dan ethylene.Auxin berperanan dalam pembentukan ethylene, tetapi auxin juga menghambat pematangan buah. Sithokinine dapat menghilangkan perombakan protein, gibberellin menghambat perombakan khlorofil dan menunda penimbunan karotenoid-karotenoid. Asam absisat menginduksi enzyme penyusun/pembentuk karotenoid, dan ethylene dapat mempercepat pematangan (Kamarani, 1986).
Partenokarpi Ialah pembentukan buah tanpa melalui proses polinasi dan fertilisasi. Buah partenokarpi, biasanya tanpa biji atau berbiji sedikit. Patenocarpi kurang menguntungkan bagi program produksi benih dan biji, tetepi sangat bermanfaat bagi peningkatan dan produksi buah, terutama jenis tanaman komersial. Sebagai contoh paternocarpi pada terong dapat meningkatkan kualitas buah, sedangkan pada buah kiwi dapat meningkatkan produktivitas buah dan tidak membutuhkan serangga penyerbuk ( polinator) (Betty dan Donowati, 2007).
1. Jenis – jenis partenokarpi 
Menurut Gunawan (1995), partenokarpi dapat terjadi secara alami (genetik) atau buatan (induksi). Partenokarpi secara alami dibedakan menjadi 2 faktor yaitu : obligator dan fakultatif. Kedua tipe itu sangat jarang dijumpai pada tanaman. Tipe Obligator adalah patenokarpi alami yang terjadi tanpa adanya faktor atau pengaruh dari lingkungan. Hal tersebut terjadi karena secara genetik tanaman memiliki gen penyebab partenokarpi. Aktifnya gen pat akan memberi sinyal pada kompleks protein IAA9/ARF8, yang berfungsi sebagai regulator dalam inisiasi pertumbuahan dan perkembangan buah, untuk menghasilkan auksin di ovari. Mekanisme tersebut menyebabkan buah memiliki kadar auksin yang cukup untuk kelangsungan pertumbuahn dan perkembangannya, meski tanpa adanya biji.
Tipe Fakultif adalah partenokarpi alami yang terjadi karena pengaruh lingkungan, contohnya Lewis pada tahun 1942 berhasil mendapatkan buah pir tanpa biji dengan cara memaparkan bunga pir padasuhu rendah selama 3-19 jam. Chocran pada tahun 1936 dapat meningkatkan pembentukan buah partenokarpi pada capsicum dengan memaparkan tanaman yang sedang berbunga pada suhu 10°-16° C. Osbone and went pada tahun 1953 menyatakan bahwa pembentukan buah partenokarpi pada tanaman tomat dapat diinduksi dengan suhu rendah dan intensitas cahaya yang tinggi (Seub Shin et al, 2007).
Partenokarpi buatan dapat diinduksi melalui aplikasi zat pengatur tumbuh, seperti auksin dan giberelin. Zat pengatur tumbuh sintesis yang umum digunakan untuk menginduksi pembentukan buah partenokarpi adalah 2- napthelene acetic acid (NAA ), 3-Indole butyric acid (IBA), 2,4,5,T 2,4,5 trichloropenoxy acetic acid (2,4,5 T) dan dichloropenoxy acetic acid (2,4 D). Senyawa- senyawa tersebut telah umum di gunakan pada tanaman tomat, strawberry, blackberry, apricot, anggur, peach,cerry,apel dan jeruk (Ho and Hewitt, 1986).

Menurut Gunawan (1995), pemberian auksin oksigen dapat menggantikan polinasi dan fertilisasi pada proses pembentukan dan perkembangan buah pada beberapa spesies tanaman. Partenokarpi juga dapat dilakukan dengan memanipulasi jumlah ploidi pada tanaman. Hal tersebut dapat ditempuh dengan persilangan biasa. Kihara berhasil menyilangkan tanaman semangka diploid (induk jantan) dan tetraploid (induk betina) menghasilkan tanaman hibrid (T1) triploid yang buahnya tanpa biji.
Metode terbaru yang dicoba dan dikembangkan untuk menghasilkan partenocarpi buatan melalui rekayasa genetik. Pembentukan buah partenokarpi melalui tehnik rekayasa genetik dapat ditempuh melelui dua pendekatan. Pendekatan pertama dilakukan dengan cara menghambat perkembangan embrio atau biji tanpa mempengaruhi prtumbuahn buah, sedangakan pendekatan kedua dengan mengekspresikan fitohormon pada bagian ovari atau ovul untuk memacu perkembangan buah partenokarpi (Li et al, 1996).
Cara pendekatan utama ditempuh melalui penggunaan gen yang bersifat merusak sel (sitotoksik), misalnya kombinasi gen iaaM dan iaaH dari bakteri Argobacterium tumefaciens. Gen tersebut menghasilkan senyawa toksik terhadap sel-sel embrio atau biji. Cara pendekatan kedua dalam menghasilkan partenokarpi adalah melalui pengekspresian senyawa fitohormon IAA atau analognya pada bakal. Cara tersebut didasari oleh pengetahuan bahwa aplikasi fitohormon sejenis auksin atau giberelin dapat menggantikanperan biji dalam merangsang pembentukan dan perkembangan buah (Betty dan Donowati, 2007).
1.        Gen pertenokarpi DefH9-iaaM
Retino dkk telah berhasil mengembangkan suatu metode baru agar tanaman mampu menghasilkan buah tanpa melalui tahap fertilisasi sehingga akan terbentuk buah tanpa biji. Metode tersebut dilakukan dengan menginsersikan gen partenokarpi DefH9-iaaM ke dalam genom tanaman. Gen DefH9-iaaM terdiri  atas dua sekuen gen yang spesifik. Sekuen pertama yaitu gen iaaM , berukuran 600 pb dan diisolasi dari bakteri Pseudomonas syringae dan savatanoi. Gen iaaM menghasilkan auksin dalam jaringan tanaman. Sekuen kedua ialah daerah promoter DefH9 (deficiens homologue 9) yang diisolasi dari Antirrinum majus dan berukuran 1.350pb (Seub Shin, 2007).
Gen partenokarpi DefH9-iaaM menyendi enzim indolatesamida monooksigenase yang mengkorversi triptofan menjadi indolasetamida (prekusor auksinIAA) yang di ekspresikan pada ovul dan plasenta. Akibat ekspresi gen tersebut maka terbentuk buah partenokarpi tanpa melalui polinasi dan fertilisasi. Bagian regulator DefH9 ( promotor) dapat mengontrol ekspresi iaaM (pengkode IAA) hanya padabagian plasenta dan ovul. Ekspresi IAApada bagian plasenta memastikan bahwa partenocarpi terjadi sebelum polinasi, sedangkan pada ovul ditujukan untuk mengganti peran biji dalam memacu pertumbuhan buah (Gunawan, 1995).

DAFTAR PUSTAKA

Betty, Widiastuti dan Donowati, Tjokrokusumo. 2007. “Peranan Beberapa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tanaman pada Kultur In Vitro”. Jurnal Sains Dan Teknologi Indonesia. Vol. 3 No. 5 Agustus 2001, halaman 55-63.
Gunawan, L. W. 1995. Teknik Kultur Infitro dalam Holtikultura. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ho, L. C and Hewitt J, D. 1986. Fruit Development. Chapman and Hall Ltd.
London.
Iriawati. 2012. Struktur Perkembangan Buah. ITB. Bandung.
Isnandi, J. 1983. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
Kamarani. 1986. Fisiologi Pasca Panen. UGM Press. Yogyakarta.
Li, D. W., Qio, J. W., Ouyang, P. I., Yao, Q. X., Dawei, L.D., Jiwen, Q., Ping, O., Qingxiao, Y. 1996. “ High Frequencies of Fertilization and Embrio Formation in Hexaploid Wheat X Tripsacum Dactiloides Crosses”. Theor Appl Genet [online], 92 (1996): 1103-1107.
Mignoli, Francesco., Mariotti, Loremo., Lombardi, Lara., Fidoz, Maria L., Ceccarelli, Nelo., Picciarelli, Piero. 2012. “Tomato Fruit Development in Deoxin-Resistan DGT Mutan is Induced By Polination But No By Auxin Treatment”. Journal of Plant Physiology [online], 69 (2012): 1165-1172.
Seub Shin, Young., Grice So, Deux., Hwan, Kim Jwoo. 2007. “ Influence of Polination Method on Fruit Development and Sugar Content of Oriental Melon”. Scientia Horticulturae [online], 112 (2007): 388-392.

Rabu, 11 Oktober 2017

Bioteknologi Hewan

Bioteknologi Hewan
I.                   Pengertian Bioteknologi Hewan
Bioteknologi hewan adalah penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan rekayasa untuk memodifikasi mahluk hidup untuk membuat produk, memperbaiki hewan, dan mengembangkan mikroorganisme untuk penggunaan tertentu (Miguel, 2010).        Bioteknologi hewan pada awalnya dilakukan secara tradisional dengan cara menyilangkan hewan dan selective breeding. Praktek ini terbukti telah dapat memperbaiki kualitas hewan-hewan untuk keperluan tertentu contohnya yan popular dan persilangan keturunan yang disebut bagal (mule), sedangkan persilangan resiprok atau kebalikannya antara kuda jantan dengan keledai betina akan menghasilkan keturunan yang disbeut hinnie. Baik bagal maupun Hinnie digunakan sebagai hewan pekerja yang cukup tangguh dan bermanfaat. Praktek persilangan  keledai sampai sekarang masih banyak dilakukan seperti  yang dilaporkan oleh Krugel et al. (2008) di banyak negara di Eropa. Contoh lainnya adalah pemuliaan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan teknik selective breeding. Program ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi protein pada masyarakat miskin di negara berkembang. Ikan hasil pemuliaan ini dikenal dengan nama ikan nila GIFT (Genetic Improvement of Formed Tilapia).
Ada beberapa alasan melakukan bioteknologi hewan diantaranya untuk mengisolasi, identifikasi dan karakterisasi gen agan dapat mempelajari fungsinya, untuk membantu menyiapkan model penelitian tentang penyakit, dan mengembangkan obat dan strategi bagi penyembukhan penyakit (misalnya melalui terapi gen), untuk menyiapkan jaringan/organ untuk transplantasi, untuk menghasilkan susu yang mengandung bahan terapi, susu dengan kandungan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan balita dan anak-anak, dan untuk meningkatkan kualitas ternak (Sutomo, 2016).
II.                Kloning dan Transgenik
Kloning dan transgenik seringkali diartikan sama atau dicampur adukkan pengertiannya walaupun sebenarnya keduanya memiliki arti yang berbeda.  Kloning adalah proses menghasilkan individu-individu yang secara genetik sama dan individu yang dihasilkan dengan cara kloning disebut sebagai klon. Hewan transgenik dihasilkan dengan cara menyisipkan gen baru dengan bantuan manusia. Hewan transgenik bisa dibuat dengan teknologi cloning. Namun demikian, suatu hewan bisa merupakan suatu klon tapi bukan transgenic atau bisa juga suatu hewan adalah transgenik tapi bukan merupakan suatu klon (Wall et al., 2009).
III.             Contoh-Contoh Hewan Kloning
a.       Transfer Nukleus

Transfer nukleus membutuhkan dua sel yaitu suatu sel donor dan suatu oosit atau sel telur. Telur matur sebelum dibuahi dibuang intinya atau nukleusnya. Proses pembuangan nukleus tadi dinamakan enukleasi. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan informasi genetisnya. Ke dalam telur yang telah dienukleasi tadi kemudian dimasukkan nukleus (donor) dari sel somatik. Penelitian membuktikan bahwa sel telur akan berfungsi terbaik bila ianya dalam anfertilisasi, sebab hal ini akan mempermudah penerimaan nukleus donor seperti dirinya sendiri. Di dalam telur, inti sel donor tadi akan bertindak sebagai inti sel zigot dan membelah serta berkembang menjadi blastosit. Blastosit selanjutnya ditransfer ke dalam uterus induk pengganti (surrogate mother). Jika seluruh proses tadi berjalan baik, suatu replika yang sempurna dari donor akan lahir. Jadi sebenarnya setelah terbentuk blastosit in vitro, proses selanjutnya sama dengan proses bayi tabung yang tehnologinya telah dikuasai oleh para ahli Obstetri Ginekologi (Thomas, 2001)
b.      Kloning Domba Dolly

Kloning domba Dolly merupakan peristiwa penting dalam sejarah kloning. Tidak saja hal tersebut membangkitkan antusias terhadap kloning, melainkan juga hal tersebut membuktikan bahwa kloning binatang dewasa dapat disempurnakan. Sebelumnya, tidak diketahui bahwa suatu nukleus dewasa ternyata mampu memproduksi suatu hewan yang komplit. Bila terjadi kerusakan genetis dan deaktivasi gen yang sederhana maka kedua keadaan tersebut kemungkinan bersifat menetap. Hal tersebut di atas bukanlah suatu kasus yang menyusul setelah penemuan oleh Ian Wilmut dan Keith Cambell tentang suatu metode yang mana mampu melakukan singkronisasi siklus sel dari kedua sel donor dan sel telur. Tanpa singkronosasi siklus sel, maka inti tidak akan berada pada suatu keadaan yang optimum untuk dapat diterima oleh embrio. Bagaimanapun juga sel donor harus berjuang untuk dapat masuk ke Gap Zero, atau stadium sel GO, atau stadium sel dorman (Thomas, 2001).
Pertama, suatu sel (sel donor) diseleksi dari sel kelenjar mammae domba betina berbulu putih (Finn Dorset) untuk menyediakan informasi genetis bagi pengklonan. Untuk studi ini, peneliti membiarkan sel membelah dan membentuk jaringan in vitro atau diluar tubuh hewan. Hal ini akan menghasilkan duplikat yang banyak dari suatu inti yang sama. Tahap ini hanya akan bermanfaat bila DNA nya diubah, seperti pada kasus Dolly, karena perubahan tersebut dapat diteliti untuk memastikan bahwa mereka telah dipengaruhi (Thomas, 2001).
Suatu sel donor diambil dari jaringan dan dimasukkan ke dalan campuran, yang hanya memiliki nutrisi yang cukup untuk mempertahankan kehidupan sel. Hal ini menyebabkan sel untuk menghentikan seluruh gen yang aktif dan memasuki stadium GO. Kemudian sel telur dari domba betina Blackface (domba betina yang mukanya berbulu hitam = Scottish Blackface) dienokulasi dan diletakkan disebelah sel donor.
Satu sampai delapan jam setelah pengambilan sel telur, kejutan listrik digunakan untuk menggabungkan dua sel tadi, pada saat yang sama pertumbuhan dari suatu embrio mulai diaktifkan. Teknik ini tidaklah sepenuhnya sama seperti aktivasi yang dilakukan oleh sperma, karena hanya beberapa sel yang diaktifkan oleh kejutan listrik yang mampu bertahan cukup lama untuk menghasilkan suatu embrio.
Jika embrio ini dapat bertahan, ia dibiarkan tumbuh selama sekitar enam hari, diinkubasi di dalam oviduk domba. Ternyata sel yang diletakkan di dalam oviduk lebih awal, di dalam pertumbuhannya lebih mampu bertahan dibandingkan dengan yang diinkubasi di dalam laboratorium. Akhirnya embrio tadi ditempatkan ke dalam uterus betina penerima (surrogate mother). Induk betina tersebut selanjutnya akan mengandung hasil cloning tadi hingga ianya siap untuk dilahirkan. Bila tidak terjadi kekeliruan, suatu duplikat yang persis sama dari donor akan lahir.
Domba yang baru lahir tersebut memiliki semua karakteristik yang sama dengan domba yang lahir secara alamiah. Dan telah diamati bila ada efek yang merugikan, seperti resiko yang tinggi terhadap kanker atau penyakit genetis lainnya yang terjadi atas kerusakan bertahap kepada DNA, dikemudian hari juga terjadi pada Dolly atau hewan lainnya yang dikloning dengan metode ini.                
      c.         Kloning Tikus

Kata kloning, berasal dari bahasa  Inggris clone, pertama kali diusulkan oleh Herbert Webber pada tahun 1903 untuk mengistilahkan sekelompok organisme hewan maupun tumbuh-tumbuhan yang dihasilkan melalui reproduksi aseksual dan berasal dari satu induk yang sama. Setiap anggota dari klon tersebut mempunyai susunan dan jumlah gen yang sama dan kemungkinan besar fenotipnya juga sama. Kloning pada hewan dilakukan mula-mula pada amfibi (kodok), dengan mengadakan transplantasi nukleus ke dalam telur kodok yang dienukleasi. Sebagai donor digunakan nukleus sel somatik dari berbagai stadium perkembangan. Ternyata donor nukleus dari sel somatik yang diambil dari sel epitel usus kecebong pun masih dapat membentuk embrio normal (Thomas, 2001).
Sejak Wilmut berhasil membuat klon anak domba yang donor nukleusnya diambil dari sel kelenjar susu domba dewasa, maka terbukti bahwa pada mammalia pun klon dapat dibuat. Atas dasar itu para ahli berpendapat bahwa pada manusia pun secara teknis klon dapat dibuat.
Pada Juli 1998, suatu tim ilmuwan dari Universitas Hawai mengumumkan bahwa mereka telah menghasilkan tiga generasi tikus kloning yang secara genetik identik. Tehnik ini diakreditasi atas nama Teruhiko Wakayama dan Ryuzo Yanagimachi dari Universitas Hawai. Tikus telah sejak lama diketahui merupakan mamalia yang tersulit untuk dikloning, ini merujuk pada, bahwa segera setelah suatu sel telur tikus mengalami fertilisasi ia akan segera membelah. Domba digunakan karena sel telurnya membutuhkan beberapa jam sebelum membelah, memungkinkan adanya waktu bagi sel telur untuk memprogram ulang nukleus barunya. Meskipun tidak mendapatkan keuntungan tersebut ternyata Wakayama dan Yanagimachi mampu melakukan kloning dengan angka keberhasilan yang jauh lebih tinggi (3 kloning dari sekitar seratus yang dilakukan) dibandingkan Ian Wilmut (satu dari 277).
Sel telur tikus yang tidak dibuahi digunakan sebagai resipien dari inti donor. Setelah dienokulasi, sel telur memiliki inti donor yang dimasukkan ke dalamnya. Nukleus donor diambil dari sel-sel dalam hitungan menit dari setiap ekstrak sel dari tikus tersebut. Tidak seperti pada proses yang digunakan untuk melahirkan Dolly, tanpa in vitro atau di luar dari tubuh hewan, kultur dilakukan justru pada sel-sel tersebut. Setelah satu jam sel-sel telah menerima nukleus-nukleus yang baru. Setelah penambahan waktu selama 5 jam sel telur kemudian ditempatkan pada suatu kultur kimia untuk memberi kesempatan sel-sel tersebut tumbuh, sebagaimana layaknya fertilisasi secara alamiah.

IV.             Contoh Hewan Transgenik
a.       Glow fish – Ikan Bercahaya
Glow fish merupakan salah satu contoh hewan transgenik yang direkayasa secara genetiknya. Ikan ini dikembagkan dari Amerika Serikat yang merekayasa DNA dari ikan zebra (Danio rerio) dengan gen pengkode protein flourens warna hijau dari gfp (green flourescent protein). Namun secara fenotip, warna yang dihasilkan bukan hanya warna hijau saja melainkan warna kuning hingga merah. (Hossein, 2009).
b.      Sapi Transgenik Penghasil Protein Susu
Rekombinan Teknologi transgenik ini telah sukses dilakukan untuk kepentingan di bidang agrikultur dalam meningkatkan mutu kualitas pangan. Pada hewan uji yang berupa lembu jarang sekali dilakukan percobaan transgenik hal ini dikarenakan banyak kendala seperti masa regenerasinya butuh waktu sekitar 2 tahun. Namun para peneliti akhirnya bisa menyisipi gen penghasil α-lactalbumin yang berasal dari manusia. Dari hasil uji produksi susu sebesar 91 ml, ditemukan sekresi α–lactalbumin dengan konsentrasi 2,4 mg ml-1.  Metode yang digunakan adalah melakukan fertilisasi secara in vitro yang selanjutnya akan dihasilkan zigot. Tahap berikutnya zigot akan diinjeksi dengan DNA yang mengandung gen α–lactalbumin. Proses injeksi dengan menggunkan teknik microinjection. Selanjutnya zigot dikultur selama 6 atau 7 hari dengan menggunakan media sintetik yang menyerupai cairan oviduk. Setelah itu akan tumbuh menjadi embrio dan ditransfer ke rahim lembu untuk proses kehamilan (Hossein, 2009).
c.       Kucing Yang Bersinar Dalam Gelap
Pada tahun 2007, ilmuwan Korea Selatan mengubah DNA seekor kucing untuk membuat kucing tersebut bersinar di dalam gelap dan kemudian mereka mengambil DNA tersebut dan menggunakannya untuk meng-clone kucing-kucing lain—menciptakan sekelompok kucing yang berbulu halus, yang bersinar dalam gelap. Beginilah cara mereka melakukannya: Para peneliti mengambil sel-sel kulit dari beberapa ekor kucing Angora Turki berjenis kelamin betina dan menggunakan sebuah virus untuk memasukkan instruksi-instruksi genetik untuk menciptakan protein yang bisa menimbulkan cahaya yang berwarna merah. Kemudian mereka meletakkan nuclei yang gen-nya sudah diubah tersebut ke dalam sel telur untuk melakukan cloning, dan embrio-embrio yang sudah di-clone tersebut diimplantasikan kembali pada kucing-kucing donor tersebut—sehingga membuat kucing-kucing tersebut menjadi ibu pengganti bagi clones mereka sendiri (Hossein, 2009).
d.      Enviropig
Enviropig or “Frankenswine,” sebagaimana kritikus menyebutnya, adalah seekor babi yang telah diubah secara genetik untuk mencerna dan memproses fosfor dengan lebih baik. Kotoran babi kaya akan phytate, salah satu bentuk fosfor, sehingga ketika para petani menggunakan kotoran babi tersebut sebagai pupuk, maka zat kimia tersebut akan hanyut bersama air dan menyebabkan ganggang berkembang biak hingga bisa menghabiskan oksigen di dalam air dan bisa membunuh kehidupan laut. Jadi para ilmuwan menambahkan bakteri E. Coli dan DNA tikus pada embrio seekor babi. Modifikasi ini bisa mengurangi keluaran fosfor dari seekor babi hingga sebanyak 70 persen—sehingga membuat babi  tersebut menjadi lebih ramah lingkungan (Hossein, 2009).
e.       Ikan Salmon yang Cepat Besar e
Ikan salmon milik AquaBounty yang dimodifikasi secara genetik tumbuh dua kali lipat lebih cepat dibandingkan ikan salmon varietas konvensional. Perusahaan tersebut mengatakan ikan tersebut mempunyai rasa, warna, dan bau yang sama, dengan ikan salmon biasa; akan tetapi, perdebatan masih berlanjut tentang apakah ikan tersebut aman dimakan. Ikan salmon Atlantik yang direkayasa secara genetik mempunyai hormon pertumbuhan tambahan yang berasal dari ikan salmon Chinook sehingga memungkinkan ikan tersebut memproduksi hormon pertumbuhan sepanjang tahun.
Para ilmuwan mampu membuat hormon tersebut tetap aktif dengan cara menggunakan sebuah gen yang berasal dari seekor ikan yang menyerupai belut yang dinamakan ocean pout, yang berfungsi sebagai sebuah “saklar” bagi hormon tersebut. Jika FDA menyetujui penjualan ikan salmon tersebut, maka ini akan menjadi kali pertamanya pemerintah mengijinkan hewan yang dimodifikasi dipasarkan untuk konsumsi manusia. Menurut pedoman pemerintah federal, ikan tersebut tidak akan diberi label sebagai ikan yang dimodifikasi secara genetic (Hossein, 2009).
f.       Kambing Pembuat Jaring Laba-Laba
Serat laba-laba yang kuat dan fleksibel adalah salah satu material yang paling berharga di alam, dan bisa digunakan untuk menciptakan serangkaian produk mulai dari ligamen buatan hingga tali parasut (parachute cords) jika saja kita bisa memproduksinya dalam skala komersial. Pada tahun 2000, Nexia Biotechnologies mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan jawabannya: seekor kambing yang bisa memproduksi jaring laba-laba dalam susunya.Para peneliti memasukkan gen sutera pembuat jaring dari seekor laba-laba ke dalam DNA kambing tersebut dengan cara sedemikian rupa sehingga kambing tersebut akan memproduksi protein sutera tersebut hanya di dalam susu mereka. “Susu sutera” ini kemudian bisa digunakan untuk membuat material seperti jaring yang disebut Biosteel (Hossein, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Hossein Azadi. 2009. Genetically Modified and Organic Crops in Developing Countries : A         review of Options for Food Security. Sl : Elsevier Inc.
Miguel, A., Sosa, G., Gasperi, R.D., Elder, G.A. 2010. Animal transgenesis: an overview. Brain   Struct. Funct. 214: 91-109.
Schoenbaum, J Thomas. 2001. International Trade in Living Modified Organism, Edited by          Francioni, Francesco, “Environment Human Rights and International Trade”. Oxford:            Portland.  Hlm. 27.
Sutarno. 2016. Rekayasa genetik dan perkembangan bioteknologi di bidang perternakan.  Seminar nasional XIII pendidikan biologi FKIP UNS 2016. 13 (2) : 23-27
Wall, R., Laible, G., Maga, E., Seidel, Jr., G. and Whitelaw, B. 2009. Animal Productivity and
Genetic Diversity: Cloned and Transgenic Animals. CAST Issue Paper 43 part 8 Animal         Agriculture’s Future through Biotechnology.

LAPORAN PEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTAN

V. Data & Hasil Pengamatan ·          100 ml larutan NaCl 0.58 gr Pada proses pembuatan larutan NaOH , dengan men a mba h kan a...